Sabtu, 25 Desember 2010

Din Nya Yang begitu Jelas, Terang, dan Nyata...

            Seorang anak dari pasangan suami-istri yang sah itu telah lahir. Bertepatan dengan Kartini's Day 1995. Sebuah nama yang sah pun telah diberikan oleh sang Ayah tercinta, Sebut saja puterinya itu bernama Kartika Nurdianti  ---hmm 7 bintang yang dihiasi kilauan cahaya..---( hehe mungkin kurang lebih kalo digabung, penafsiran dari nama lengkapnya kaya gitu)--ck kurang tau juga deh.

Puteri nya terus tumbuh, menjadi sosok wanita yang keinginannya berusaha untuk bisa menjadi sosok wanita sejati yang lebih bersahaja ..Seperti hal nya dengan wanita itu.., Siti Khadijah r.a
Optimisnya dan pandangan ia yaitu selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik dalam hal apapun melalui usaha dan Do'a.

          Masalah kesehariannya yang kadang pun membebani nya.., membuat dia cepat merasa galau dan berantakan..
Namun perlahan ia yakini semua akan pulih seperti seharusnya..

Kekasihnya yang setia, tetap setia dan selalu ada. Ia mendengar dan selalu Maha mengetahui tiap* hal yang wanita itu rasakan dalam sembilu hati..
Dia., Wanita itu sangat  teramat mencintai kekasih sejatinya..

          Kekasihnya pun tak kalah tanding, sangat dan lebih menyayangi wanita itu.. Walau terkadang si Wanita tak setiap waktunya sempurna dalam keteguhan hatinya kepada sang kekasih..
Meski begitu, ia tetap istiqomah.. Ia selalu mengingatkan isi hati yang selalu merindukan kekasihnya itu..

             Wanita itu bermunajat di setiap lantunan Do'a, dan Lafal serta gerakannya dalam shalat :
                                                   "Jangan pernah Kau meninggalkanku,
                                      Jauh sendiri dan lagi merugi serta dalam keadaan tersesat"

Karena wanita itu tampaknya sangat membutuhkan Kekasih tercinta Nya itu..
Hanya Kekasih Nya yang bisa menolong si wanita dalam keadaan sempit maupun lapang, dan hanya diri Nya yang mampu menguatkan serta menenangkan disaat seorang wanita itu, terjatuh melemah dan menitikan air matanya..

Semua begitu jelas, terang dan lagi nyata.... Dia begitu dekat dengan kami...
Lalu ia pun menerawang dan merasakan kehadiran Ruh Cinta dari kekasih sejatinya.., Dia, wanita itu... tetap menunggu dan berdo'a agar ia dapat bertemu dengan Cinta sejatinya kelak.. (insyaAllah -amiin)
      
           Saat ini, si wanita masih sedang berusaha , belajar, dalam perbaikan..  menuju rute yang sudah ditunjukkan kepadanya, InsyaAllah itu merupakan bagian rahmat dari Sang Kekasih..

Ini adalah awal dan sebuah jalan yang berbeda dalam cara pandangnya... Semua akan ia perbaharui.. dan mungkin di awal tahun nanti,( insyaAllah bila ia masih diizinkan untuk menerima pinjaman sementara dari sang kekasih..) kini, ia mengemban sebuah amanah dan jalurnya kini yang sempat tertarik dengan jalan  dakwah...
(walopun masih tahap belajar pastinya) tapi kan menurut hadist sahih :

        "Sampaikanlah walau satu Ayat, dan dengarkanlah walau dari seseorang yang kecil"

Ia menginginkan agar Din Nya itu terasa semakin dekat dengannya.., Ia ingin semakin mencintai Nya.., dan ia menginginkan menjadi seorang khalifah yang tetap istiqomah berada di jalan Nya..

(tak kami pungkiri, bahwa semua itu melalui tahap proses, dan tak semudah itu dilakukan, yang pasti Atas izinNya dan ridho Nya..)

Semua semakin dekat terasakan.., dalam ketenangan dzikir serta keheningan gerakan sholatnya di tengah malam..

Ruh Cinta itu sangat jelas, sangat terang, dan melimpah atas kenikmatan yang telah di AnugerahkanNya...
Di atas kesedihan , dan berbagai problematika hidupnya Wanita itu terus berusaha untuk selalu tersenyum dan tetap sabar (insyaAllah Amiin) walopun semua ia lakukan di tengah kesedihan yang sedang menghampiri...

Jumat, 24 Desember 2010

Simfoni Rindu di Atas Sajadah

                Malam ini, sosoknya hadir kembali. Di pelupuk mataku, seorang adam itu datang lagi. Perlahan-lahan berlinanglah air mataku. Apa dayaku?
                Aku tak berkutik. Tetapi ternyata dia hadir disana.., di sebrang lautan. Jauh dan semakin menjauh. Meninggalkan ruang hatiku yang berantakan. Meninggalkan bola mataku yang berkaca-kaca dalam kerinduan.
               Tiada yang bisa kulakukan, selain serahkan diri kepada Sang Mahapenyayang.
Dengan sisa-sisa energi di jasmani, bangkitlah tubuh dari ranjang. Menuju sajadah membentang.

                                                                        * * *


                Berdiri aku dalam tegak. Membagi kepedihan merata kesekujur tulang. Mengendurkan seluruh persendian. Mengalirkan cinta merata ke segenap urat syaraf.
                Berdiri aku dalam diam. Selama beberapa saat, kubiarkan udara hening menembus hidung, kerongkongan, sampai paru-paru.
Sampai benar-benar kurasakan cinta merata ke segenap urat syaraf, barulah aku mengangkat tangan Takbiratul-ihram.
               Allahu akbar! Allah Mahabesar. Belas kasih-Nya lebih besar daripad rasa pedihku. Cinta Kasih-Nya lebih besar daripada rasa rinduku. Lebih besar daripada segala yang ada pada diriku.
               Kepada sang Mahabesar, kubulatkan tekadku untuk serahkan diri. Hidup-matiku bukan milikku. Hidup-matiku milik Dia Yang Mengatur alam beserta segenap isinya, termasuk diriku!

               Sebelum mulai memuji Sang Pengatur alam semesta dan membaca Al-Fatihah, aku diam lagi selama beberapa saat. Kukayuh roda-roda nalar di benakku. Kucari seutas benang merah dalam keheningan.
               Mengapa bola mataku berkaca-kaca dalam kerinduan? Tentu karena ruang hatiku berantakan. Mengapa ruang hatiku berantakan ? tentu karena aku merasa sangat kehilangan. Mengapa merasa kehilangan? Tentu karena merasa memiliki. Hanya orang yang memilikilah yang bisa kehilangan.

              Ya ampun....! Betapa naifnya diriku. Lihat ! Hidup-mati diriku sendiri saja bukan milikku. Ngapain aku merasa seolah-olah seorang adam itu milikku sepenuhnya ?
              Inna illaah ! Sesungguhnya kita semua milik Allah. Tentu, seorang Adam itu pun milik Dia jua.
              "Ya Allah ! Betapa kumuhnya hatiku ! Milik Mu itu selama ini telah kuaku-aku sebagai milikku.
Sungguh aku tak tahu diri. Kini, dengan shalatku ini, kukembalikan dia kepada-Mu. Ya Allah ! Terimalah pengembalianku ini. Dan sucikanlah kembali kalbuku".
              Dengan pengembalianku kepada-Nya inilah jiwaku siap menyelami Al-Fatihah.

                                                                      * * *

             Bismillaahir rahmaanir rahiim. Dengan menyebut nama-Mu ,ya Allah, kusadari kasih sayang-Mu kepada kami.
             Alhamdulillaahi rabbil 'aalamin. Segala puji bagi-Mu ,ya Allah! Kau anugerahi dia kerupawanannya dan kebaikan hatinya.
             Arrahmaanir rahiim. Sekali lagi, kusadari kasih sayang-Mu kepada kami.
             Maaliki yawmid diin. Dengan kasih sayang-Mu ,Kau berkuasa membalaskan segala kebaikan sang Adam.
            Iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin. Kepada-Mu kami sama-sama memohon bantuan menata hati yang sedang berantakan ini.
            Ihdinash shiraathal mustaqiim. Tunjukilah kami jalan cinta sejati.

           Ya Allah ! Engakau Mahatau. Kautahu isi hatiku. Kau tahu sang Adam mana yang aku hasrati bila Kau berkenan memasukkan aku ke taman abadi-Mu. Memang, akal sehatku senantiasa mengingatkan bahwa dia adalah milik-Mu. Akan tetapi, hati kecilku berbisik, dia terlalu indah untuk ku lepaskan. Haruskah aku lupakan dia? Manakah jalan yang happy ending bagi semuanya.

            Shiraathal ladziina an'amta 'alayhim. Tunjukkanlah kami jalan para pecinta yang kaupinjami kenikmatan. Pinjamilah kami kenikmatan cinta sejati.
           Ghayril maghdhuubi 'alayhim. Jauhkanlah kami dari jalan cinta yang ternoda.
           Waladh dhaalliin. Juhkanlah kami dari jalan cinta yang palsu.
Aaaminn. Ya Allah ! Kabulkanlah permohonan kami.

                                                                          * * *


           Begitu merasa santai saat rukuk, kepada-Nya kuadukan kembali hatiku yang berantakan.
"Ya Allah..! kenikmatan insani yang pernah kau pinjamkan kepadaku melalui kedekatan kami berdua, selalu membayangi hari-hariku dan malam-malamku. Tawanya yang renyah, gurauan nya yang selalu membuat aku tertawa, melepas segala galau dan rasa sedih yang menyinggahi hati sesaat, dan cintanya yang begitu tulus kepadaku. Semuanya begitu indah , bukan?
Ya Tuhan ! Sungguh aku penasaran."

           Diiringi rasa penasaran dan mata yang berkaca-kaca, aku berdiri kembali (i'tidal). Aku diam sebentar.
Kuberi kesempatan agar aliran darah dari otak turun kembali ke seluruh tubuh. Kubiarkan diri tidak lekas-lekas sujud. Kuberi kesempatan agar rasa penasaran dan berbagai emosi yang menggumpal di kepala itu menguap melalui seluruh pori-pori.
           Tadi sewaktu berdiri, si dia kukembalikan kepada pemiliknya yang sejati. Kini, sewaktu berdiri lagi, si dia kukembalikan lagi.

           Pengembalian  ulang ini lebih mendalam karena dipicu oleh rasa penasaran yang begitu mendalam. Akibatnya, bergetarlah lubuk hati. Darinya, mengalirlah getaran-getaran ke seluruh tubuh yang melepaskan berbagai perasaan.
           Getaran itu mengalir terus dan semakin kencang. Air mata turun membasahi pipi. Pandangan mata menjadi buram dan semakin buram. Bila kubiarkan begini, bisa-bisa bisikan dari jin kusangaka ilham dari tuhan. Sekarang, sudah saatnya aku bertekuk-lutut di hadapan Tuhan.

                                                                          * * *


          Dengan bertekuk lutut, aku bersujud. Tujuh titik raga mencium  sajadah. Tujuh titik jiwa mencari pelukan Sang Maha Penyayang..
          Kepada-Nya kembali aku serahkan diri sepenuhnya. Kali ini lebih total.
Air mata mengalir dan terus mengalir. Dalam keheningan, kukuras lubuk hati sedalam-dalamnya. Air mata membanjiri mukena dan sajadahku.
          Seperti menguras sumur di musim kemarau, aku kuras lubuk hati. Pada awalnya, penggalian menggenang. Sementara penggalian terus aku perdalam, sumur menjadi tanah belaka yang kering-kerontang. Ketika penggalian sudah mencapai kedalaman yang memadai, mulai muncratlah  air dari mata air, yang masih keruh karena bercampur dengan tanah galian. Lambat-laun, tatkala air keruh sudah tersingkir, berlimpahlah air bersih-segar di sumur ini.

          Pada mulanya, memang air mata duka yang aku kucurkan. Sementara pengurasan lubuk hati terus kuperdalam, jiwaku menjadi kering-kerontang. Tiada isinya selain penderitaan. Namun, air mata bahagia mulai berhamburan ketika lubuk hatiku yang paling dalam mulai mendendangkan syair-syair segar :

        " Jika aku bersabar menerima taqdir dan menyambut Hari Akhir, maka tentu Allah akan jadikan dia Pangeranku kelak di surga, untuk selama-lamanya."

         Puncaknya, dalam keheningan telaga air mata bahagia, kurasakan guyuran kesegaran. Tumbuhlah semangatku untuk bangkit dari sujud dan bangkit dari keterpurukan.

                                                                           * * *


          Duduklah aku di antara dua sujud, di tengah-tengah pengurasan lubuk hati. Kumanfaatkan kesempatan ini untuk rehat sejenak.
          Kupantau lubuk hati, kalau-kalau ada lubang di sana sini. Begitu memergoki kebocoran, segera kuadukan tiris ini kepada Tuhan.
         " Ya Allah ! Ampuni aku. Betapapun kotornya hatiku, Engakau Maha Mensucikan".
         " Ya Alah ! Sayangilah aku. Betapapun besarnya hasratku untuk memperoleh cintanya, kasih sayang-Mu lebih ku butuhkan ..."
        " Ya Allah ! Sehatkanlah aku. Betapapun pedihnya lka jiwaku, Engaku Maha Menyembuhkan ... "

                                                                              * * *


           Saat duduk akhir kusadari, posisi tubuhku sudah berbeda. Sejak tadi, posisi tubuhku simetris.
Kanan-kiri serupa. Kini, posisi tubuhku tidak lagi simetris. Pantat kiri menempel ke tanah, kaki kiri berada di bawah paha dan betis kanan. Tubuhku condong ke arah kanan menjaga keseimbangan.
Menyadari kecendrungan baru ini, jiwaku pun ku condongkan ke arah keseimbangan baru.

           Dalam keseimbangan baru, aku diam. Kutarik napas pelan-pelan. Kumanfaatkan keempatan ini untuk memperbarui jiwa.
Dalam keseimbangan baru, perlahan-lahan  aku mengucap syahadat.
          Ku akui , tiada keindahan sejati, kecuali lantaran Sang Mahaindah. Kuakui pula , Muhammad itu kekasih-Nya.
           Dalam pengakuan baru, aku pun bertanya :
          " Memang, seorang Adam itu bukanlah Sang Mahaindah. Kalau begitu, diakah kekasih-Nya? Yang Dia kirim kepadaku untuk meneteskan secercah keindahan dari-Nya ke lubuk hatiku ?
Dan menjadikan diriku manusia baru yang lebih elok daripada yang sudah-sudah ?"

                                                                            * * *


          Sebelum salam penutup shalat, aku bermunajat :

            " Ya Allah ! Seandainya mengingat-ingat seorang Adam itu menjauhkan ku dari kebaikan , lenyapkanlah dari benakku segala kenangan tentang dia, betapapun manisnya. Namun seandainya mengingat-ingat kekasih-Mu itu mendekatkan aku dengan kebaikan, peliharalah di benakku segala kenangan tentang dia, betapapun pahitnya".

            Seusai  munajat, masih sebelum salam penutup, aku merasa plong. Ruang hatiku, yang tadinya berantakan, kini tampak tertata rapi.


((untuk seseorang adam yang sempat mengisi keseharianku..
-16 Oktober 2009- ))

----------------------------------------------------------------------------------------------------

sumber : Kisah Nyata Pencarian Cinta sejati -dengan sedikit Perubahan

Ldki seruu...! :)

hwhwh... periihh ii ni mataa..! hem blom kelar juga rasanya,.. -,-
mata yang sembab blom juga kembalii...ke mata yang indah.., wkwk lebaaii......!!
gue itu sbenrnya abis ikut LDKI , sumpaaah..!! acaranya kereen banget.. mungkin gak akan pernah gue lupain..
Ldk yang satu ini tuh lebih berkesan daripada ldk yang udah-udah dilaksanain dari organisasi lain yang gue ikutin.
mau tauu gaakk .....ceritaanyaa....?? mau yah..! mau..! mau...! haha pkoknya harus mauuu...! ahah pemaksaan...ck