Jumat, 24 Desember 2010

Simfoni Rindu di Atas Sajadah

                Malam ini, sosoknya hadir kembali. Di pelupuk mataku, seorang adam itu datang lagi. Perlahan-lahan berlinanglah air mataku. Apa dayaku?
                Aku tak berkutik. Tetapi ternyata dia hadir disana.., di sebrang lautan. Jauh dan semakin menjauh. Meninggalkan ruang hatiku yang berantakan. Meninggalkan bola mataku yang berkaca-kaca dalam kerinduan.
               Tiada yang bisa kulakukan, selain serahkan diri kepada Sang Mahapenyayang.
Dengan sisa-sisa energi di jasmani, bangkitlah tubuh dari ranjang. Menuju sajadah membentang.

                                                                        * * *


                Berdiri aku dalam tegak. Membagi kepedihan merata kesekujur tulang. Mengendurkan seluruh persendian. Mengalirkan cinta merata ke segenap urat syaraf.
                Berdiri aku dalam diam. Selama beberapa saat, kubiarkan udara hening menembus hidung, kerongkongan, sampai paru-paru.
Sampai benar-benar kurasakan cinta merata ke segenap urat syaraf, barulah aku mengangkat tangan Takbiratul-ihram.
               Allahu akbar! Allah Mahabesar. Belas kasih-Nya lebih besar daripad rasa pedihku. Cinta Kasih-Nya lebih besar daripada rasa rinduku. Lebih besar daripada segala yang ada pada diriku.
               Kepada sang Mahabesar, kubulatkan tekadku untuk serahkan diri. Hidup-matiku bukan milikku. Hidup-matiku milik Dia Yang Mengatur alam beserta segenap isinya, termasuk diriku!

               Sebelum mulai memuji Sang Pengatur alam semesta dan membaca Al-Fatihah, aku diam lagi selama beberapa saat. Kukayuh roda-roda nalar di benakku. Kucari seutas benang merah dalam keheningan.
               Mengapa bola mataku berkaca-kaca dalam kerinduan? Tentu karena ruang hatiku berantakan. Mengapa ruang hatiku berantakan ? tentu karena aku merasa sangat kehilangan. Mengapa merasa kehilangan? Tentu karena merasa memiliki. Hanya orang yang memilikilah yang bisa kehilangan.

              Ya ampun....! Betapa naifnya diriku. Lihat ! Hidup-mati diriku sendiri saja bukan milikku. Ngapain aku merasa seolah-olah seorang adam itu milikku sepenuhnya ?
              Inna illaah ! Sesungguhnya kita semua milik Allah. Tentu, seorang Adam itu pun milik Dia jua.
              "Ya Allah ! Betapa kumuhnya hatiku ! Milik Mu itu selama ini telah kuaku-aku sebagai milikku.
Sungguh aku tak tahu diri. Kini, dengan shalatku ini, kukembalikan dia kepada-Mu. Ya Allah ! Terimalah pengembalianku ini. Dan sucikanlah kembali kalbuku".
              Dengan pengembalianku kepada-Nya inilah jiwaku siap menyelami Al-Fatihah.

                                                                      * * *

             Bismillaahir rahmaanir rahiim. Dengan menyebut nama-Mu ,ya Allah, kusadari kasih sayang-Mu kepada kami.
             Alhamdulillaahi rabbil 'aalamin. Segala puji bagi-Mu ,ya Allah! Kau anugerahi dia kerupawanannya dan kebaikan hatinya.
             Arrahmaanir rahiim. Sekali lagi, kusadari kasih sayang-Mu kepada kami.
             Maaliki yawmid diin. Dengan kasih sayang-Mu ,Kau berkuasa membalaskan segala kebaikan sang Adam.
            Iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin. Kepada-Mu kami sama-sama memohon bantuan menata hati yang sedang berantakan ini.
            Ihdinash shiraathal mustaqiim. Tunjukilah kami jalan cinta sejati.

           Ya Allah ! Engakau Mahatau. Kautahu isi hatiku. Kau tahu sang Adam mana yang aku hasrati bila Kau berkenan memasukkan aku ke taman abadi-Mu. Memang, akal sehatku senantiasa mengingatkan bahwa dia adalah milik-Mu. Akan tetapi, hati kecilku berbisik, dia terlalu indah untuk ku lepaskan. Haruskah aku lupakan dia? Manakah jalan yang happy ending bagi semuanya.

            Shiraathal ladziina an'amta 'alayhim. Tunjukkanlah kami jalan para pecinta yang kaupinjami kenikmatan. Pinjamilah kami kenikmatan cinta sejati.
           Ghayril maghdhuubi 'alayhim. Jauhkanlah kami dari jalan cinta yang ternoda.
           Waladh dhaalliin. Juhkanlah kami dari jalan cinta yang palsu.
Aaaminn. Ya Allah ! Kabulkanlah permohonan kami.

                                                                          * * *


           Begitu merasa santai saat rukuk, kepada-Nya kuadukan kembali hatiku yang berantakan.
"Ya Allah..! kenikmatan insani yang pernah kau pinjamkan kepadaku melalui kedekatan kami berdua, selalu membayangi hari-hariku dan malam-malamku. Tawanya yang renyah, gurauan nya yang selalu membuat aku tertawa, melepas segala galau dan rasa sedih yang menyinggahi hati sesaat, dan cintanya yang begitu tulus kepadaku. Semuanya begitu indah , bukan?
Ya Tuhan ! Sungguh aku penasaran."

           Diiringi rasa penasaran dan mata yang berkaca-kaca, aku berdiri kembali (i'tidal). Aku diam sebentar.
Kuberi kesempatan agar aliran darah dari otak turun kembali ke seluruh tubuh. Kubiarkan diri tidak lekas-lekas sujud. Kuberi kesempatan agar rasa penasaran dan berbagai emosi yang menggumpal di kepala itu menguap melalui seluruh pori-pori.
           Tadi sewaktu berdiri, si dia kukembalikan kepada pemiliknya yang sejati. Kini, sewaktu berdiri lagi, si dia kukembalikan lagi.

           Pengembalian  ulang ini lebih mendalam karena dipicu oleh rasa penasaran yang begitu mendalam. Akibatnya, bergetarlah lubuk hati. Darinya, mengalirlah getaran-getaran ke seluruh tubuh yang melepaskan berbagai perasaan.
           Getaran itu mengalir terus dan semakin kencang. Air mata turun membasahi pipi. Pandangan mata menjadi buram dan semakin buram. Bila kubiarkan begini, bisa-bisa bisikan dari jin kusangaka ilham dari tuhan. Sekarang, sudah saatnya aku bertekuk-lutut di hadapan Tuhan.

                                                                          * * *


          Dengan bertekuk lutut, aku bersujud. Tujuh titik raga mencium  sajadah. Tujuh titik jiwa mencari pelukan Sang Maha Penyayang..
          Kepada-Nya kembali aku serahkan diri sepenuhnya. Kali ini lebih total.
Air mata mengalir dan terus mengalir. Dalam keheningan, kukuras lubuk hati sedalam-dalamnya. Air mata membanjiri mukena dan sajadahku.
          Seperti menguras sumur di musim kemarau, aku kuras lubuk hati. Pada awalnya, penggalian menggenang. Sementara penggalian terus aku perdalam, sumur menjadi tanah belaka yang kering-kerontang. Ketika penggalian sudah mencapai kedalaman yang memadai, mulai muncratlah  air dari mata air, yang masih keruh karena bercampur dengan tanah galian. Lambat-laun, tatkala air keruh sudah tersingkir, berlimpahlah air bersih-segar di sumur ini.

          Pada mulanya, memang air mata duka yang aku kucurkan. Sementara pengurasan lubuk hati terus kuperdalam, jiwaku menjadi kering-kerontang. Tiada isinya selain penderitaan. Namun, air mata bahagia mulai berhamburan ketika lubuk hatiku yang paling dalam mulai mendendangkan syair-syair segar :

        " Jika aku bersabar menerima taqdir dan menyambut Hari Akhir, maka tentu Allah akan jadikan dia Pangeranku kelak di surga, untuk selama-lamanya."

         Puncaknya, dalam keheningan telaga air mata bahagia, kurasakan guyuran kesegaran. Tumbuhlah semangatku untuk bangkit dari sujud dan bangkit dari keterpurukan.

                                                                           * * *


          Duduklah aku di antara dua sujud, di tengah-tengah pengurasan lubuk hati. Kumanfaatkan kesempatan ini untuk rehat sejenak.
          Kupantau lubuk hati, kalau-kalau ada lubang di sana sini. Begitu memergoki kebocoran, segera kuadukan tiris ini kepada Tuhan.
         " Ya Allah ! Ampuni aku. Betapapun kotornya hatiku, Engakau Maha Mensucikan".
         " Ya Alah ! Sayangilah aku. Betapapun besarnya hasratku untuk memperoleh cintanya, kasih sayang-Mu lebih ku butuhkan ..."
        " Ya Allah ! Sehatkanlah aku. Betapapun pedihnya lka jiwaku, Engaku Maha Menyembuhkan ... "

                                                                              * * *


           Saat duduk akhir kusadari, posisi tubuhku sudah berbeda. Sejak tadi, posisi tubuhku simetris.
Kanan-kiri serupa. Kini, posisi tubuhku tidak lagi simetris. Pantat kiri menempel ke tanah, kaki kiri berada di bawah paha dan betis kanan. Tubuhku condong ke arah kanan menjaga keseimbangan.
Menyadari kecendrungan baru ini, jiwaku pun ku condongkan ke arah keseimbangan baru.

           Dalam keseimbangan baru, aku diam. Kutarik napas pelan-pelan. Kumanfaatkan keempatan ini untuk memperbarui jiwa.
Dalam keseimbangan baru, perlahan-lahan  aku mengucap syahadat.
          Ku akui , tiada keindahan sejati, kecuali lantaran Sang Mahaindah. Kuakui pula , Muhammad itu kekasih-Nya.
           Dalam pengakuan baru, aku pun bertanya :
          " Memang, seorang Adam itu bukanlah Sang Mahaindah. Kalau begitu, diakah kekasih-Nya? Yang Dia kirim kepadaku untuk meneteskan secercah keindahan dari-Nya ke lubuk hatiku ?
Dan menjadikan diriku manusia baru yang lebih elok daripada yang sudah-sudah ?"

                                                                            * * *


          Sebelum salam penutup shalat, aku bermunajat :

            " Ya Allah ! Seandainya mengingat-ingat seorang Adam itu menjauhkan ku dari kebaikan , lenyapkanlah dari benakku segala kenangan tentang dia, betapapun manisnya. Namun seandainya mengingat-ingat kekasih-Mu itu mendekatkan aku dengan kebaikan, peliharalah di benakku segala kenangan tentang dia, betapapun pahitnya".

            Seusai  munajat, masih sebelum salam penutup, aku merasa plong. Ruang hatiku, yang tadinya berantakan, kini tampak tertata rapi.


((untuk seseorang adam yang sempat mengisi keseharianku..
-16 Oktober 2009- ))

----------------------------------------------------------------------------------------------------

sumber : Kisah Nyata Pencarian Cinta sejati -dengan sedikit Perubahan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar